
Sampurasun… Kumaha sadayana, damang? Nepangkeun, nami simkuring Herdi Cipta Nugraha. Kuring asli urang Sunda nyaeta ti daerah Tasikmalaya. Ciee… Ngomong sunda :v
Ngomong-ngomong soal Sunda, banyak sekali ragam karya seni yang dihasilkan. Salah satunya adalah “PUPUH”. Kalian pastinya pernah dong mendengar lagu khas dari Sunda ini. Yuk kita kupas lebih dalam lagi!
Pupuh merupakan hasil dari akulturasi budaya Jawa dengan budaya Sunda pada abad ke-17. Berdasarkan Wiraatmaja, S. dalam Yulianti (2003, hlm. 4) dinyatakan bahwa : “Datangnya pupuh dari kerajaan Mataram Islam, ke daerah Sunda dibawa oleh para petinggi Sunda yang waktu itu sering datang ke daerah Jawa untuk membayar upeti”.
Namun, bagi daerah Jawa Barat sendiri kemungkinan penyebaran pupuh ditemukan dalam kesustraan kidung Jawa Tengah, yakni sekitar tahun 1650 pada masa kerajaan Mataram Islam, dan pupuh tersebut disebarkan oleh para wali serta para ulama.

Pupuh pada dasarnya merupakan sebuah puisi lama yang memiliki arti terikat dengan aturan-aturan (pakeman) yang terdiri dari guru wilangan (jumlah suku kata/engang pada setiap barisnya), guru lagu (suara vokal akhir/engang pangtung pada setiap barisnya), jumlah baris/padalisan, dan watak pupuh.

Pupuh yang terkenal di masyarakat Sunda terdiri dari 17 jenis. Apa saja sih? Ketujuh belas pupuh itu adalah asmarandana, balakbak, dangdanggula, durma, gambuh, gurisa, jurudemung, kinanti, ladrang, lambang, magatru, maskumambang, mijil, pangkur, pucung, sinom, dan wirangrong. Namun, dari ketujuh belas pupuh tersebut ada yang dinamakan dengan “Pupuh Sekar Ageung” yang terdiri dari Kinanti, Sinom, Dangdanggula, dan Asmarandana.
Seni pupuh ini banyak sekali mengandung pesan tentang ajaran-ajaran budi pekerti yang difungsikan sebagai sarana pendidikan di sekolah-sekola, sarana politik, dan sarana penyebaran agama Islam.
Bagi kalian yang ingin tahu pupuh, berikut salah satu contohnya :
Thank you 🙌